Jakarta – Yayasan Stroke Indonesia (YASTROKI) kembali menghidupkan program edukasi kesehatan melalui Kamisan YASTROKI Episode 1 yang mengangkat tema “Stroke Bukan Akhir: Kisah Penyintas dan Peran Psikologi dalam Pemulihan Stroke”. Kegiatan yang diselenggarakan secara daring melalui kanal YouTube @kamisanyastroki pada Kamis (2/7/2026) ini menegaskan bahwa proses pemulihan stroke tidak cukup hanya berfokus pada aspek fisik, tetapi juga harus memperhatikan kesehatan mental, dukungan keluarga, dan kekuatan spiritual penyintas.
Ketua Umum YASTROKI, Mayjen TNI (Purn) Dr. dr. Tugas Ratmono, Sp.N., M.A.R.S., M.H., mengatakan bahwa Kamisan YASTROKI merupakan bagian dari komitmen yayasan dalam memberikan edukasi mengenai penanganan stroke secara komprehensif, mulai dari upaya promotif, preventif, kuratif, hingga rehabilitatif bersama pemerintah dan berbagai komponen masyarakat.
Menurutnya, stroke masih menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi di dunia maupun di Indonesia, sekaligus termasuk penyakit dengan pembiayaan kesehatan katastropik terbesar setelah penyakit jantung. Karena itu, masyarakat perlu memahami pentingnya mengenali gejala stroke sedini mungkin agar pasien memperoleh penanganan medis dalam waktu ideal, yakni kurang dari dua jam sejak gejala pertama muncul.
“Pemulihan stroke tidak hanya berkaitan dengan fisik, tetapi juga menyangkut aspek mental dan spiritual. Ketiganya harus berjalan beriringan agar penyintas dapat kembali memiliki kualitas hidup yang baik,” ujar Tugas Ratmono.
Dalam sesi utama, Psikolog Klinis Tenny Septiani Rachman, M.Psi., menjelaskan bahwa stroke bukan hanya menyebabkan gangguan gerak, tetapi juga memberikan dampak besar terhadap kondisi psikologis penyintas. Dampak tersebut dapat muncul akibat kerusakan biologis pada bagian otak yang mengatur emosi maupun karena tekanan psikologis setelah mengalami perubahan kondisi fisik secara tiba-tiba.
Ia mengungkapkan sekitar 30–40 persen penyintas stroke mengalami depresi pascastroke (post-stroke depression), terutama mereka yang juga mengalami gangguan bicara atau afasia. Selain depresi, penyintas juga berpotensi mengalami apatis, emosi yang tidak stabil, hingga perubahan kepribadian dalam jangka panjang.
“Kondisi mental yang tidak tertangani dapat memperlambat pemulihan fisik. Ketika seseorang mengalami stres berkepanjangan, kadar hormon kortisol meningkat dan dapat menghambat proses neuroplastisitas otak yang sangat dibutuhkan selama rehabilitasi,” jelasnya.
Untuk mendukung proses pemulihan, Tenny membagikan sejumlah strategi psikologis yang dapat diterapkan penyintas, di antaranya tidak ragu meminta bantuan, bergabung dengan komunitas, memperoleh informasi dari sumber terpercaya, menetapkan target pemulihan yang realistis, tetap aktif bergerak, menjaga pola hidup sehat, mengelola stres, serta melakukan latihan relaksasi melalui teknik pernapasan dan grounding.
Ia juga menekankan bahwa keluarga memiliki peran yang sangat penting sebagai pendamping utama penyintas.
“Keluarga bukan hanya membantu secara fisik, tetapi juga perlu memberikan rasa aman, memvalidasi emosi penyintas, serta membangun komunikasi yang positif selama proses rehabilitasi,” katanya.
Sementara itu, penyintas stroke Munib Danuri membagikan pengalaman pribadinya saat mengalami stroke pada 3 Agustus 2009 ketika berusia 45 tahun akibat penyumbatan pembuluh darah otak yang dipicu hipertensi. Serangan tersebut menyebabkan separuh tubuhnya mengalami kelumpuhan total.
Munib menceritakan bahwa proses pemulihan membutuhkan waktu panjang dan kesabaran. Setelah sekitar enam bulan, ia mulai mampu melakukan aktivitas dasar secara mandiri. Pada tahun pertama ia dapat berjalan menggunakan tongkat, kemudian bersepeda pada tahun kedua, mengendarai sepeda motor pada tahun ketiga, hingga akhirnya kembali mengemudikan mobil pada tahun kelima setelah mengalami stroke.
Menurutnya, keberhasilan rehabilitasi tidak lepas dari kedisiplinan menjalani terapi dan fisioterapi, menjaga pola tidur, menjadikan gerakan salat sebagai bagian dari latihan fisik, serta dukungan penuh dari keluarga.
“Saya belajar menerima kondisi ini sebagai ketentuan Allah. Yang paling penting adalah jangan berhenti bergerak dan jangan pernah berhenti menjalani terapi meskipun sudah merasa lebih baik,” ujarnya.
Munib juga mengingatkan bahwa banyak penyintas mengalami hambatan pemulihan karena memilih menarik diri dari lingkungan sosial. Padahal, keterlibatan dalam komunitas penyintas dapat menjadi sumber motivasi sekaligus dukungan emosional selama proses rehabilitasi.
Diskusi interaktif yang dipandu moderator Nina Novelia turut membahas berbagai persoalan yang dihadapi keluarga penyintas, mulai dari batasan pendampingan agar tidak menimbulkan ketergantungan, cara mengatasi hilangnya motivasi rehabilitasi, hingga pendekatan psikologis terhadap penyintas yang masih sulit menerima perubahan kondisi dirinya.
Menutup kegiatan tersebut, Tenny kembali mengingatkan bahwa pemulihan fisik harus berjalan seiring dengan pemulihan kesehatan mental. Ia mengutip filsuf Plato yang menyatakan bahwa penyembuhan pikiran perlu didahulukan sebelum penyembuhan tubuh.
Senada dengan itu, Munib mengajak seluruh penyintas stroke untuk terus menjaga semangat, tidak malu beraktivitas di ruang publik, aktif mengikuti komunitas penyintas, serta semakin mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa selama menjalani proses pemulihan.
Melalui Kamisan YASTROKI Episode 1, YASTROKI berharap masyarakat semakin memahami bahwa stroke bukanlah akhir dari kehidupan. Dengan penanganan medis yang cepat, rehabilitasi yang konsisten, dukungan keluarga yang kuat, serta kesehatan mental yang terjaga, penyintas tetap memiliki kesempatan untuk kembali hidup mandiri dan produktif.