Yastroki — Angka kematian akibat stroke di Indonesia terus mengalami peningkatan dan menjadi perhatian serius berbagai pihak. Menanggapi kondisi tersebut, Yayasan Stroke Indonesia (Yastroki) menggandeng Perhimpunan Dokter Keluarga Indonesia (PDKI) dan Komunitas Relawan Emergensi Kesehatan Indonesia (KREKI) untuk menggelar pelatihan relawan penanganan stroke berbasis komunitas di Jakarta.
Ketua Umum Yastroki, Mayjen (Purn.) Dr. dr. Tugas Ratmono, Sp.S, MARS, MH, menyampaikan bahwa Indonesia saat ini menempati posisi ketiga tertinggi di dunia dalam jumlah kasus stroke. Hal ini menunjukkan pentingnya upaya kolaboratif dalam meningkatkan kesadaran dan kesiapsiagaan masyarakat.
“Stroke tidak hanya menyerang tubuh seseorang, tetapi juga mengguncang kehidupan keluarga. Banyak pasien yang sebenarnya bisa diselamatkan, namun terlambat ditangani. Di sinilah pentingnya kehadiran orang-orang terdekat yang siap dan tahu apa yang harus dilakukan,” ujarnya.
Ia menambahkan, setiap menit sangat berarti saat stroke terjadi.
“Bayangkan jika orang tua kita, pasangan kita, atau tetangga kita tiba-tiba terserang stroke. Dalam kondisi panik, seringkali tidak ada yang tahu harus berbuat apa. Padahal, tindakan sederhana dalam waktu yang tepat bisa menyelamatkan nyawa dan mencegah kecacatan permanen,” katanya.
Pelatihan ini melibatkan dokter keluarga dari berbagai daerah di bawah naungan PDKI. Para peserta dibekali kemampuan untuk melatih masyarakat, khususnya pengurus RT dan RW, agar mampu menjadi stroke helper atau penolong pertama dalam situasi darurat.
Dalam sesi praktik, peserta mendapatkan pelatihan langsung menggunakan alat peraga yang dipandu oleh tim KREKI yang dipimpin oleh Brigjen (Purn.) Dr. dr. Supriyantoro, Sp.P, MARS. Ia menegaskan bahwa tindakan mengabaikan korban dalam kondisi darurat dapat dikenai sanksi pidana sesuai Pasal 531 KUHP, dengan ancaman hukuman hingga tiga bulan penjara.
“Menolong bukan hanya soal kemanusiaan, tetapi juga tanggung jawab bersama. Tidak bertindak saat seseorang dalam bahaya bisa berdampak hukum, tetapi yang lebih penting, itu bisa berarti kehilangan kesempatan menyelamatkan seseorang,” tegasnya.
Yastroki juga berkomitmen untuk memperluas jaringan relawan hingga tingkat RT dan RW di seluruh Indonesia. Program ini direncanakan akan didukung dengan pemberian insentif bagi pengurus RT/RW melalui kolaborasi dengan sektor swasta dan berbagai mitra.
Diketahui, gejala stroke seperti sakit kepala hebat, demam, dan mulut miring harus segera ditangani dalam waktu emas (golden time) sekitar dua setengah jam sejak serangan. Keterlambatan penanganan, termasuk akibat proses administratif, dapat berdampak fatal bagi pasien.
“Tidak ada keluarga yang siap melihat orang yang dicintainya kehilangan kemampuan bicara, berjalan, atau bahkan hidupnya hanya karena terlambat ditangani. Karena itu, edukasi dan kesiapsiagaan masyarakat menjadi kunci,” lanjut Tugas.
Faktor utama penyebab stroke di Indonesia antara lain hipertensi, paparan polusi, serta kebiasaan merokok. Oleh karena itu, selain pelatihan komunitas, Yastroki juga tengah mengembangkan program penilaian layanan kesehatan bertajuk “Rumah Sakit Ramah Stroke”.
Program ini bertujuan memberikan panduan kepada masyarakat dalam memilih fasilitas kesehatan yang responsif dan optimal dalam menangani kasus stroke.
“Melalui penilaian ini, kami ingin memastikan masyarakat tidak lagi bingung mencari pertolongan. Setiap detik sangat berharga, dan setiap keputusan bisa menentukan masa depan seseorang,” tutupnya.