Yastroki Peringatkan Lonjakan Kasus Stroke di Indonesia, Dorong Rumah Sakit Siaga

Jakarta – Yayasan Stroke Indonesia (Yastroki) mengungkapkan bahwa jumlah penderita stroke di Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun. Kondisi tersebut dinilai memerlukan perhatian serius, termasuk kebijakan yang memastikan rumah sakit mengoptimalkan layanan pertolongan, pengobatan, dan pemulihan bagi pasien stroke.

Ketua Umum Yastroki, Tugas Ratmono, menyampaikan bahwa upaya pencegahan dan penanganan stroke harus melibatkan berbagai pihak melalui kerja sama lintas sektor.

“Komitmen Yastroki sejak awal berdiri hingga ke depan adalah terus meningkatkan kepedulian berbagai elemen masyarakat melalui kolaborasi, baik dalam pencegahan, penanggulangan, maupun pemulihan bagi penderita stroke,” ujar Tugas Ratmono saat peringatan HUT ke-37 Yastroki di Prodia Tower, Jalan Kramat Raya, Jakarta, awal pekan ini.

Dalam kegiatan tersebut, Yastroki juga memberikan penghargaan kepada sejumlah rumah sakit yang dinilai memiliki pelayanan ramah stroke, terutama dalam aspek penanganan darurat, pengobatan, hingga rehabilitasi pasien.

Penghargaan tersebut diberikan kepada beberapa rumah sakit, di antaranya RSPAD Gatot Subroto, Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Rumah Sakit Pusat Otak Nasional, RS Islam Cempaka Putih, RS Primaya Bekasi Timur, RS Mandaya Kebon Jeruk, serta RSUD Pasar Minggu.

Menurut Tugas, stroke saat ini dapat dikategorikan sebagai bencana kemanusiaan karena menimbulkan korban jiwa dan kerugian ekonomi yang besar.

“Stroke bisa disebut sebagai bencana kemanusiaan karena menelan banyak korban jiwa dan harta. Selain berkolaborasi dengan rumah sakit, kami juga akan merealisasikan program pembagian 1.000 kursi roda serta menggerakkan para aktivis untuk melakukan kampanye pencegahan dan pertolongan stroke,” jelasnya.

Ia menambahkan, program tersebut ditargetkan mampu menjangkau hingga satu juta masyarakat di lingkungan RT/RW, baik di wilayah pedesaan maupun perkotaan di seluruh Indonesia.

Selain itu, Yastroki juga berencana memperluas jaringan organisasi dengan mendirikan cabang di berbagai daerah guna mendorong terwujudnya Indonesia yang lebih ramah terhadap penyintas stroke.

Data yang dimiliki Yastroki menunjukkan angka penderita stroke terus mengalami peningkatan. Pada 2013, prevalensi stroke tercatat sekitar 7 per 1.000 penduduk. Angka tersebut naik menjadi 10,9 per 1.000 penduduk pada 2018 dan terus meningkat hingga saat ini.

Untuk menekan risiko stroke, masyarakat juga diimbau menerapkan pola hidup sehat melalui prinsip CERDIK.

“Bagi masyarakat, kami mengimbau agar menerapkan pola CERDIK untuk mencegah stroke, yaitu cek kesehatan secara rutin, enyahkan asap rokok, rajin beraktivitas fisik, diet seimbang, istirahat cukup, dan kelola stres,” kata Tugas.

Ia juga menyoroti besarnya beban ekonomi yang ditimbulkan oleh penyakit stroke di Indonesia. Berdasarkan data yang dihimpun, biaya penanganan stroke yang ditanggung BPJS Kesehatan mencapai sekitar Rp2,8 triliun pada 2022. Angka tersebut kemudian meningkat tajam menjadi sekitar Rp5,2 triliun pada 2023.

“Jumlah tersebut belum termasuk beban ekonomi yang harus ditanggung keluarga pasien stroke. Selain kehilangan produktivitas, mereka juga membutuhkan biaya perawatan harian yang tidak sedikit,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *