KAMISAN YASTROKI EPISODE 1 “Stroke Bukan Akhir: Kisah Penyintas dan Peran Psikologi dalam Pemulihan Stroke”

I. Informasi Umum Kegiatan

Nama KegiatanKamisan YASTROKI Episode 1
Hari/TanggalKamis, 2 Juli 2026
Waktu13.30 – 15.00 WIB (mundur dari jadwal semula pukul 13.00 WIB)
PlatformYouTube Live Streaming (@kamisanyastroki)
PenyelenggaraYayasan Stroke Indonesia (YASTROKI)
ModeratorNina Novelia, S.E., M.I.Kom
Narasumber 1Tenny Septiani Rachman, M.Psi., Psikolog (Psikolog Klinis)
Narasumber 2Munib Danuri (Penyintas Stroke, Klub Stroke RS Islam Cempaka Putih, Jakarta)  

II. Susunan Acara

WaktuKegiatanKeterangan
13.30Pembukaan acara oleh moderatorNina Novelia
13.30–13.39Sambutan Ketua Umum YASTROKIMayjen TNI (Purn) Dr. dr. Tugas Ratmono, Sp.N., M.A.R.S., M.H.
13.39–14.05Pemaparan materi sesi 1: perspektif psikologi klinis dalam pemulihan strokeTenny Septiani Rachman, M.Psi., Psikolog
14.05–14.47Pemaparan materi sesi 2: kesaksian dan pengalaman penyintas strokeMunib Danuri
14.47–15.16Sesi diskusi dan tanya jawab interaktifDipandu Nina Novelia
15.16–15.20Closing statement narasumber dan penutupanNina Novelia

Catatan: Sambutan dari Pembina Yayasan, Prof. Dr. dr. Teguh A.S. Ranakusuma, Sp.N.(K), tidak dapat disampaikan pada pelaksanaan kegiatan karena yang bersangkutan tidak hadir/tidak memberikan respons hingga acara berlangsung, sehingga rangkaian acara langsung dilanjutkan ke sambutan Ketua Umum YASTROKI.

III. Jalannya Acara

A. Pembukaan

Acara dibuka oleh moderator, Nina Novelia, dengan mengucapkan salam pembuka dan menyampaikan gambaran umum mengenai tema kegiatan, yaitu pentingnya aspek psikologis dalam proses pemulihan pasien pasca stroke. Moderator turut menyampaikan bahwa Kamisan YASTROKI merupakan kelanjutan dari kegiatan edukasi stroke yang sebelumnya sempat terhenti dan kini kembali dihidupkan sebagai program mingguan.

B. Sambutan Ketua Umum YASTROKI

Mayjen TNI (Purn) Dr. dr. Tugas Ratmono, Sp.N., M.A.R.S., M.H. menyampaikan bahwa Kamisan YASTROKI merupakan bagian dari upaya yayasan menangani stroke secara komprehensif dari hulu ke hilir, sebagai mitra pemerintah dan komponen masyarakat lainnya. Beliau menyampaikan data bahwa secara global maupun nasional, stroke merupakan salah satu penyebab kematian dan pembiayaan kesehatan katastropik tertinggi setelah jantung, sehingga deteksi dini dan penanganan cepat (idealnya kurang dari dua jam sejak gejala muncul) menjadi sangat penting untuk membatasi risiko kecacatan. Beliau menekankan bahwa pemulihan stroke bersifat komprehensif, mencakup pemulihan fisik, mental, dan spiritual, serta menyampaikan apresiasi kepada para narasumber dan harapan agar kegiatan ini dapat terus berlanjut dengan topik-topik lain di masa mendatang.

C. Pemaparan Materi Sesi 1 — Perspektif Psikologi Klinis

Narasumber Tenny Septiani Rachman, M.Psi., Psikolog, menyampaikan bahwa dampak stroke tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga memengaruhi kondisi mental melalui dua jalur, yakni kerusakan biologis pada jaringan otak yang berkaitan dengan regulasi emosi (seperti sistem limbik, amigdala, dan korteks prefrontal), serta faktor emosional akibat perubahan kondisi fisik yang terjadi secara tiba-tiba.

  • Sekitar 30–40% pasien stroke mengalami depresi pasca serangan (post-stroke depression), dengan risiko lebih tinggi pada pasien yang juga mengalami afasia/gangguan bicara.
  • Perubahan psikologis umum yang dialami penyintas meliputi depresi, sikap apatis, emosi yang labil, hingga perubahan kepribadian jangka panjang.
  • Kondisi mental yang tidak tertangani turut memperlambat pemulihan fisik, salah satunya melalui peningkatan hormon kortisol yang menghambat neuroplastisitas otak.
  • Disampaikan sembilan strategi psikologis bagi penyintas, meliputi: tidak ragu meminta bantuan, mencari teman bicara dan komunitas, mencari informasi dari sumber yang valid, memperlambat ritme aktivitas untuk mengenali diri, menetapkan target-target kecil yang realistis, tetap aktif bergerak, menjaga pola hidup sehat, mengelola stres dengan memilah hal yang dapat dan tidak dapat dikendalikan, serta melakukan teknik relaksasi seperti pernapasan dalam dan grounding.
  • Ditekankan pula peran keluarga dan caregiver dalam memberikan pendampingan yang menenangkan, melakukan validasi emosi, serta membantu penyintas berkomunikasi secara positif.

D. Pemaparan Materi Sesi 2 — Kesaksian Penyintas Stroke

Narasumber Munib Danuri, penyintas stroke dari Klub Stroke RS Islam Cempaka Putih Jakarta, membagikan pengalamannya mengalami stroke pada 3 Agustus 2009 di usia 45 tahun akibat penyumbatan pembuluh darah otak dan riwayat hipertensi, yang mengakibatkan kelumpuhan total pada separuh tubuhnya.

  • Beliau menceritakan proses pemulihan bertahap: mandiri dalam aktivitas dasar dalam kurun waktu sekitar 6 bulan, mampu berjalan dengan tongkat pada tahun pertama, bersepeda pada tahun kedua, mengendarai sepeda motor pada tahun ketiga, dan mengemudikan mobil pada tahun kelima pasca stroke.
  • Faktor pendukung pemulihan yang disampaikan meliputi disiplin menjalani terapi dan fisioterapi secara konsisten, menjadikan ibadah salat sebagai sarana latihan gerak, disiplin waktu tidur, serta dukungan penuh dari keluarga.
  • Beliau menekankan pentingnya penerimaan diri terhadap kondisi sebagai bagian dari ketentuan yang harus dijalani dengan sabar dan ikhlas, serta pentingnya tetap aktif bergerak dan tidak menutup diri dari lingkungan sosial.
  • Disampaikan pula pengalaman mengenai dampak stroke terhadap peran ekonomi keluarga, serta pentingnya keterlibatan aktif dalam komunitas dan pelatihan pemulihan ekonomi bagi penyintas.
  • Beliau berpesan agar penyintas tidak berhenti menjalani terapi meskipun sudah mencapai kemandirian dasar, karena penghentian terapi dapat menyebabkan stagnasi pemulihan.

E. Sesi Diskusi dan Tanya Jawab

Sesi ini menjawab pertanyaan yang masuk dari peserta melalui kolom komentar YouTube Live. Beberapa poin penting yang dibahas antara lain:

  • Batasan antara membantu dan menciptakan ketergantungan pada penyintas: keluarga disarankan tetap memberikan pendampingan dan pengawasan, namun memberi ruang bagi penyintas untuk melakukan aktivitas yang masih dapat dilakukan secara mandiri.
  • Penanganan hilangnya motivasi rehabilitasi: memerlukan kolaborasi multidisiplin antara tenaga medis, terapis, dan psikolog/psikiater untuk mengidentifikasi apakah hambatan bersifat fisik atau emosional.
  • Cara membedakan perubahan emosi akibat dampak neurologis stroke dengan kondisi psikologis yang memerlukan penanganan profesional: dilihat dari sejauh mana perubahan tersebut mengganggu keseharian dan menghambat proses penyembuhan.
  • Pendekatan psikologis terhadap penyintas yang membandingkan kondisi dirinya dengan sebelum stroke: bersifat individual, dapat berupa pendekatan penerimaan kondisi (acceptance) maupun dorongan motivasi untuk kembali mendekati kondisi awal, tergantung kebutuhan masing-masing individu.
  • Munib Danuri turut menambahkan perspektif praktis terkait pentingnya penerimaan diri di awal fase pemulihan sebagai kunci sebelum proses kebangkitan dapat berjalan optimal, serta pengamatannya bahwa penyintas yang enggan bergerak dan menarik diri dari lingkungan sosial cenderung berisiko mengalami hambatan pemulihan yang lebih lambat.

F. Closing Statement

Tenny Septiani Rachman menutup sesi dengan menyampaikan bahwa pemulihan fisik pasca stroke harus berjalan beriringan dengan pemulihan kesehatan mental, dukungan emosional keluarga, pengelolaan stres, dan koneksi sosial sebagai fondasi resiliensi penyintas, serta mengutip pemikiran filsuf Plato bahwa penyembuhan pikiran perlu mendahului penyembuhan tubuh.

Munib Danuri menyampaikan pesan penutup agar sesama penyintas senantiasa menjaga semangat, tidak malu bergerak di ruang publik, aktif dalam komunitas, serta mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Kuasa dalam menjalani proses pemulihan.

IV. Kesimpulan

  • Stroke berdampak tidak hanya pada kondisi fisik, tetapi juga kesehatan mental penyintas, sehingga membutuhkan perhatian yang setara.
  • Keluarga memiliki peran penting dalam memberikan dukungan emosional dan motivasi selama proses rehabilitasi.
  • Pengalaman penyintas menunjukkan bahwa stroke bukan akhir dari kehidupan; dengan penanganan cepat, rehabilitasi konsisten, dan semangat untuk bangkit, kualitas hidup penyintas dapat terus ditingkatkan.

Selengkapnya dapat disimak di siaran channel Youtube berikut.

Scroll to Top